← Catatan Syabli

Catatan 08 · 21 Juni 2026

39

39

“With luck comes obligation. You owe a debt to the unlucky.”

— Michael Lewis

• • •

Minggu ini saya ngetik dua pertanyaan yang kalau dibaca orang lain mungkin kelihatan aneh.

Apa yang terjadi pada seorang pebisnis di umur 39?

Dan apa yang terjadi pada Rasulullah di umur segitu?

Saya nyari bukan buat cari ilmu. Saya nyari biar ngerasa gak sendirian.

• • •

Karena minggu ini saya melepas kursi direktur. Tanggung jawab yang bertahun-tahun saya pegang, saya serahkan ke orang lain.

Yang saya rasakan campur aduk. Lega — kayak akhirnya boleh turun dari satu gelanggang. Tapi ada juga bisik kecil yang nanya: kok bisa ya saya sampai di titik ini?

Anehnya, saya gak sedih. Ada joy yang gak saya sangka — ngeliat orang lain naik, megang yang dulu saya pegang. Dan nungguin hasilnya nanti, pelan-pelan, itu pun rasanya menyenangkan.

Tapi saya tahu saya gak boleh berhenti. Lepas satu tanggung jawab artinya pindah ke tanggung jawab yang lebih besar.

Masalahnya cuma satu: yang lebih besar itu apa? Saya masih bingung.

• • •

Lalu saya nemu sesuatu dari pertanyaan kedua tadi.

Rasulullah, sebelum 40, adalah pedagang. Orang yang dipercaya, sampai dijuluki al-Amin. Tapi makin dekat ke umur itu, beliau makin sering menyepi — naik ke Gua Hira, menjauh dari pasar, gelisah sama keadaan sekelilingnya, tanpa tahu persis lagi nyari apa.

Dan waktu sesuatu akhirnya datang di umur 40, reaksi pertama beliau bukan “oh, akhirnya jelas.” Tapi terguncang. Diperintah “Iqra — bacalah”, beliau jawab: saya tidak bisa membaca. Lalu pulang gemetar, minta diselimuti.

Jelas ini beda kelas. Beliau menerima wahyu; saya cuma mau lepas kursi direktur. Saya gak lagi nyari kesetaraan.

Saya cuma nyari teman di perasaan yang sama. Bahwa di ambang, di umur ini, bahkan contoh terbaik yang kita punya pun sempat terguncang dulu. Gak langsung dikasih rincian tugasnya. Cuma dikasih “iqra” — lalu sisanya kebuka pelan, sambil jalan.

Mungkin 39 emang bukan umur buat dapat jawaban. Tapi umur buat dapat “iqra” — aba-aba buat mulai melangkah sebelum ngerti mau ke mana.

• • •

Soal tanggung jawab yang lebih besar tadi, saya nemu satu petunjuknya justru dari kalimat Michael Lewis yang saya baca minggu ini. Katanya, kalau kamu pernah sukses, di dalamnya selalu ada keberuntungan. Dan keberuntungan itu datang bawa utang — utang ke orang-orang yang gak seberuntung kamu.

Michael Lewis nyebut utang itu ke the unlucky. Tapi buat saya ada satu arah lagi yang dia gak sebut: ke atas. Ke Tuhan, yang naruh keberuntungan itu di tangan saya, bukan di tangan orang lain.

Dan mungkin di situ jawabannya. Yang lebih besar itu bukan target yang lebih tinggi, bukan kursi yang lebih gede. Tapi nyicil dua utang itu.

Joy yang saya rasakan pas ngeliat orang lain tumbuh tadi — mungkin itu bukan selingan. Mungkin itu justru kerjaan besar yang berikutnya.

• • •

Saya masih belum tahu bentuk persisnya. Tapi untuk pertama kalinya, bingung saya gak kerasa kayak tersesat.

Lebih kayak berdiri di mulut gua — sambil nunggu “iqra” saya sendiri.