Dibagi Nol

Sebagai owner, saya menghitung apa saja. Margin, stok, arus kas, untung-rugi tiap langkah. Itu memang pekerjaan saya — dan saya gak akan minta maaf buat itu.
Tapi ada satu kebiasaan yang diam-diam numpang di tiap hitungan saya. Saya bukan cuma menghitung. Saya menuntut.
Angka yang saya proyeksikan, pelan-pelan saya perlakukan seperti janji. Seolah hasil sekian itu sudah seharusnya jadi milik saya. Dan begitu kenyataannya meleset, saya kecewa — seperti ada yang ingkar janji ke saya.
Padahal yang bikin janji itu cuma saya. Ke diri saya sendiri.
Tiap angka yang saya tempel, kalau jujur, sebenarnya sebuah syarat. “Kalau hasilnya gak sekian, gak usah.” “Kalau belum kelihatan untung, tunda dulu.”
Menghitung bikin saya merasa pegang kendali. Tapi menuntut hasil bikin saya gak pernah benar-benar tenang. Selalu ada yang mengganjal di belakang kepala: bagaimana kalau angkanya gak datang?
Saya kira saya sedang berhati-hati. Ternyata saya cuma menahan diri dari hal yang mestinya saya jalani.
Mas Jay pernah ngomong satu hal yang mulanya kedengaran kayak salah hitung.
Semua kita bagi dengan angka, katanya. Satu dibagi sepuluh. Satu dibagi seratus. Makin besar angka yang kita tuntut dari sebuah hasil, makin kecil ketenangan yang tersisa di tangan kita.
Coba, katanya, dibagi nol saja.
Satu dibagi nol, di matematika, bukan nol. Tak terhingga.
Saya gak langsung paham. Tapi lama-lama kebuka — angka yang dia maksud itu bukan hitungan usahanya. Itu besarnya tuntutan kita atas hasil. Turunkan tuntutan itu sampai nol, rela menerima apa pun yang datang, dan yang kita dapat malah jadi tak terhingga.
Jadi bukan berhenti menghitung. Owner tetap harus menghitung; itu gak bisa ditawar.
Cuma, di antara semua angka yang saya hitung selama ini, ada satu kolom yang selalu saya kosongkan: kerelaan menerima hasil apa pun.
Saya hitung modalnya. Saya hitung risikonya. Saya hitung untung-ruginya. Yang gak pernah saya hitung — siap gak saya kalau ternyata hasilnya bukan yang saya mau.
Mengisi kolom itu, saya kira, itulah yang Mas Jay sebut dibagi nol. Bukan berhenti berhitung. Tapi berani menaruh angka nol di tempat yang selama ini saya isi dengan tuntutan.
Belakangan saya nemu kalimat yang searah, dari tempat yang jauh berbeda. Austin Kleon, di sebuah buku tipis, ngutip Paul Arden: orang yang menimbun akhirnya cuma hidup dari cadangan, dan cadangan lama-lama basi. Tapi kalau kamu beri habis semua yang kamu punya, kamu tinggal kosong — dan justru kosong itu yang memaksamu mencari lagi, mengisi lagi. Anehnya, makin banyak yang kamu beri, makin banyak yang kembali.
Yang menghidupkan ternyata bukan yang digenggam, tapi yang direlakan.
Di catatan pertama saya pernah nulis pesan Mas Jay: berbagi saja, jangan harap balasan. Dulu saya kira itu cuma soal kebaikan hati. Sekarang saya lihat itu hitungan juga — cuma dengan satu kolom yang berani saya kosongkan.
Buktinya yang paling dekat ya catatan-catatan ini sendiri.
Dulu semua saya tahan di kepala. Saya hitung dulu: layak dibagi apa belum, bakal dibaca apa nggak. Selama saya hitung begitu, gak ada yang keluar.
Begitu saya berhenti menuntut hasilnya dan keluarkan saja — satu, lalu satu lagi — yang balik justru datang dari pintu yang gak pernah masuk hitungan saya.
Jadi saya mikir, selama ini saya sebenarnya lagi ngapain.
Berusaha keras, iya. Menghitung dengan rajin, iya. Tapi sambil diam-diam menuntut hasil tunduk pada angka saya — seolah ujung cerita itu ada di genggaman saya.
Berusaha dan menghitung itu jatah kita. Memastikan hasilnya — itu bukan.
Coba tanya pelan ke diri sendiri: di semua hitungan kita yang rapi itu, sudah terisi belum kolom yang satu ini — rela menerima hasil apa pun?