Hutan yang Salah

Tadi malam saya ngutik-ngutik laptop sampai jam dua. Bukan karena ada deadline. Bukan karena tim minta. Karena saya merasa harus!
Sebulan terakhir, malam seperti itu jadi rutin. Saya yang bukan developer, dipijat-pijat oleh Claude Code sambil mantengin error log yang setengahnya gak saya pahami. Saya bilang ke diri sendiri: ini investasi belajar.
Padahal saya tahu. Saya cuma ikut-ikutan.
AI lagi rame. Influencer Threads pamer aplikasi yang katanya rakit dalam 24 jam. Founder tetangga rilis MVP tiap dua minggu. Owner non-teknis macam saya pun ikut bikin — CRM untuk Lilara, aplikasi assessment untuk TataTim. Dua-duanya saya yang nyetel sendiri. Dua-duanya bikin saya begadang.
Pagi ini, selepas subuh, saya keluar cari kafe. Pesan manual brew, japanese ice. Sambil nunggu barista nuang air dari leher angsa, saya buka note di handphone.
Saya kelelahan. Bukan lelah biasa — lelah aneh, yang muncul bukan karena kerja sedikit, tapi karena kerja banyak hal yang salah arah.
Seminggu lalu, saya ke Bali. Bukan liburan. Saya ikut sesi Mas Jay Setiabudi — atau Mas J, founder Young Entrepreneur Academy dan Yukbisnis.
Di sela acara, Mas J ngomong satu hal yang nempel di kepala saya:
Berbagi saja. Jangan pernah berharap balasan dari apa yang kamu bagikan. Sampai pada satu titik, balasan itu datang sendiri. Bahkan ketika kamu sudah tidak peduli pun, dia tetap datang.
Saya catat. Saya pikir saya sudah cukup paham. Saya pulang ke Lombok.
Beberapa hari kemudian, saya teringat potongan film yang pernah saya tonton — series Ertugrul, drama sejarah Turki. Adegan ayah dan anak, Ertugrul dan Gunduz, ngobrol usai penaklukan istana Kulucahisar, tentang pasukan militan.
Gunduz nanya: “Ayah, di mana aku bisa menemukan orang-orang itu?”
Ertugrul jawab: “Mereka akan menemukanmu sendiri, jika kau berada di jalan yang benar, anakku.”
Saya tertegun. Karena pesan Ertugrul ke Gunduz persis sama dengan apa yang Mas J ucapkan di Bali. Persis. Bukan kamu yang mencari. Mereka yang menemukan.
Setelah itu, saya baru baca buku tipis yang baru saya beli — Show Your Work oleh Austin Kleon. Baru baca 15 halaman.
Di salah satu halaman, saya nemu satu kalimat yang bikin saya berhenti membalik:
You don't really find an audience for your work — they find you.
Kamu tidak mencari audience untuk karyamu. Mereka yang menemukanmu.
Saya tertegun. Letakkan buku.
Tiga orang. Tiga zaman. Satu nada.
Mas J di Bali tahun 2026. Ertugrul lewat film tentang sejarah abad ke-13. Austin Kleon di buku terbitan 2014. Tiga budaya yang gak saling kenal. Bicara hal yang sama.
Mungkin pesannya memang sederhana sampai berabad-abad orang harus diingatkan terus.
Saya jadi mikir. Sebulan terakhir saya sebenarnya ngapain.
Saya kejar audience. Saya kejar conversion. Saya kejar metric. Setiap pagi pertanyaan saya: “Apa yang bisa orang-orang ini kasih ke saya?”
Padahal Mas J bilang kebalikannya. Ertugrul bilang kebalikannya. Kleon, dengan ironis, juga bilang kebalikannya — di buku yang judulnya Show Your Work. Bukan Take Their Money.
Bukan kapasitas saya yang kurang. Bukan AI yang gagal. Bukan tim yang lemah.
Saya cuma di hutan yang salah.
Stephen Covey punya cerita yang sering saya ingat. Sekelompok orang masuk hutan. Mereka kerja keras, menebang ranting, jalan terus ke depan. Manajer mereka sibuk di belakang — bikin SOP, ngatur shift, mengasah gergaji. Semua sibuk. Semua produktif.
Lalu satu orang naik ke pohon tertinggi. Dia lihat sekeliling. Dia teriak ke bawah:
“Hutan yang salah!”
Yang di bawah teriak balik: “Diam, kami sedang kerja!”
Cerita itu sering saya ulang dalam pikiran. Sampai pagi ini, di kafe, saya nyadar — itu saya. Sebulan terakhir.
Di bab terakhir buku yang sama, Covey ngomong soal hal lain: sharpen the saw. Asah gergajimu. Karena gergaji tumpul kerjanya lebih keras tapi hasilnya sedikit.
Saya selama ini sibuk asah gergaji. Saya dapat gergaji baru — AI yang lebih tajam. Codex, Claude Code, n8n, Antigravity, Hermes. Saya bangga gergajinya makin tajam. Saya bangga jumlah ranting yang udah saya tebang.
Tapi saya lupa naik pohon dulu untuk lihat: ini hutan yang benar?
Saya bandingin dua bisnis saya.
Di Lilara — bisnis perhiasan emas-mutiara — hari Rabu saya rapat satu setengah jam, sisanya tim operator yang jalankan harian. Saya tidur 7 jam. Bisnis tumbuh stabil.
Di TataTim — aplikasi assessment tim — sebulan terakhir saya yang debug payment bug sampai jam dua pagi. Saya yang balas customer support. Saya yang setup tracking iklan. Saya tidur 4 jam. Bisnis stuck.
Kedua-duanya bisnis saya. Tapi cuma yang satu yang bikin saya tidur nyenyak.
Di Lilara saya naik pohon. Datang seminggu sekali, lihat keseluruhan, kasih arah, pulang. Di TataTim saya turun ke tanah, gergaji di tangan, menebang ranting yang harusnya ditebang orang lain.
Yang lebih ironis: sebulan terakhir, saya makin perdalam kebiasaan TataTim — bahkan saya import ke Lilara. CRM Lilara yang baru itu, saya yang setup. Saya yang debug. Bukan tim. Saya. Sendiri. Jam dua malam.
Saya pikir saya naik kelas. Ternyata saya cuma asah gergaji yang makin tajam.
AI itu gergaji tajam. Gergaji yang bisa nebang 10 pohon sekaligus.
Tapi gergaji gak bisa naik pohon.
Gergaji gak bisa tanya: ini hutan yang benar?
Gergaji gak bisa lihat: ke arah mana orang-orang menuju?
Gergaji gak bisa dengar: siapa yang sebenarnya butuh kita?
Yang bisa naik pohon, yang bisa lihat, yang bisa dengar — itu orang yang mau berhenti nebang. Yang mau diam dulu. Yang mau berbagi tanpa kejar balasan.

Mungkin Mas J. Mungkin Ertugrul. Mungkin Kleon. Mungkin guru-guru lama yang pesannya berulang tiap abad.
Saya nulis ini bukan karena tahu jawabannya. Saya masih di hutan. Mungkin masih salah hutan.
Tapi pagi ini, di kafe, kopi setengah dingin, saya berhenti dulu. Letakkan gergaji. Naik pohon. Lihat sekeliling.
Lalu saya tulis ini.
Kamu juga lagi sibuk asah gergaji sebulan terakhir? Coba berhenti sebentar. Bukan untuk gergajinya makin tajam. Tapi untuk dengar — kalau-kalau ada yang teriak dari atas pohon:
“Hutan yang salah!”