← Catatan Syabli

Catatan 05 · 10 Juni 2026

It’s not your fault!

It's not your fault!

Ini cuma akan dipahami oleh owner yang pernah kehilangan karyawan terbaiknya.

Akan selalu terasa ada yang kurang. Dan anehnya, yang pertama kamu lakukan bukan menyalahkan keadaan — tapi menyalahkan diri sendiri. Semua kekuranganmu tiba-tiba berkelebat dari segala arah, menyeruak dari tiap sudut, menarikmu mundur untuk meninjau ulang seluruh perjalanan.

Rasanya mirip hari-hari menjelang anak pertamamu pergi jauh, menuntut ilmu di pulau Jawa sana. Umurnya baru belasan. Dan rasa bersalahmu menyembur — atas waktu yang berlalu begitu cepat, atas peran yang belum sempat kamu jalani dengan sempurna.

Mengalihkan rasa kehilangan ini tidak mudah. Apalagi untuk seseorang yang bukan keluarga, tapi sudah jadi bagian dari hidupmu sekian lama. Kalian tumbuh bareng. Salah bareng. Jatuh, lalu bangun lagi, bareng.

Dia menemanimu melewati masa terberat — saat belum tentu ada orang yang percaya padamu, di tengah keadaan yang serba tidak pasti.

Dan di titik perpisahan itu, yang muncul justru penyesalan. Atas hal-hal yang tak sempat terucap. Terima kasih yang selalu kamu tunda, sampai akhirnya terlambat. Dia harus melangkah ke babak hidupnya berikutnya.

Yang tersisa cuma rasa bersalah.

• • •

Mas Gazan, owner Zanana, pernah berseloroh: “Itu justru cara kita berkontribusi untuk Indonesia.”

Maksudnya, kita ini tempat menyiapkan orang-orang terbaik buat mendapat kesempatan belajarnya. Dari pulau kecil. Dari usaha kecil. Dari omzet yang masih terseok-seok. Sampai datang waktunya dia siap untuk sesuatu yang lebih besar — tanpa kita ada di dalamnya.

Mengingat itu, ada rasa lega. Tapi tetap saja, rasa bersalah masih menyertainya.

Saya cerita ke istri: mungkin ini ujian atas tulisan saya yang kemarin. Soal berani menaruh angka nol.

Yang bikin dada ini masih bergemuruh ternyata satu — saya diam-diam mengambil ranah Tuhan. Mengambil peran yang bukan jatah saya.

Jatah saya cuma memberi yang terbaik yang saya bisa saat itu. Dengan keterbatasan ilmu. Dengan keterbatasan pengalaman. Dengan keterbatasan kebijaksanaan. Soal hati seseorang mau bertahan atau pergi — itu ranah Tuhan. Dan tidak pernah ada yang salah di sana.

Maka kembalilah ke tugas semula. Berbagi. Mengalirkan. Mengajarkan. Karena kamu tidak akan hidup cukup lama untuk jadi sesuatu yang terlalu spesial. Mungkin memang itu alasan saya masih diberi napas.

Tapi tetap saja, rasa bersalah itu masih ada…

• • •

Untuk mengobatinya, saya teringat satu adegan di film Good Will Hunting.

Sean, sang terapis, berdiri di depan Will — anak muda jenius yang seumur hidup menyalahkan dirinya atas luka yang bukan perbuatannya. Sean menatapnya, lalu berkata pelan, “It’s not your fault.”

Will menjawab cepat, “I know.” Tahu, katanya. Padahal cuma di kepala, belum sampai ke hati.

Sean maju selangkah. “It’s not your fault.” Will mulai gelisah, “I know…”

Sean tidak berhenti. Diulanginya lagi, dan lagi, makin dekat. “It’s not your fault. It’s not your fault.” Sampai akhirnya tembok yang Will bangun bertahun-tahun itu runtuh. Dia menangis di pelukan Sean, seperti anak kecil.

Jadi…

It’s not your fault. It’s not your fault. It’s not your fault.

Berlaku untukku. Dan juga untuknya.