Mimpi yang Sama

“When people realize they’re being listened to, they tell you things.”
— Richard Ford
Ada tim saya yang udah ikut tiga tahun, ada yang dua tahun. Selama itu, yang mereka dengar dari saya cuma satu: mimpi perusahaan. Yang sebenarnya, kalau jujur, itu mimpi saya pribadi.
Saya gak pernah sekali pun balik nanya: kalian sendiri mimpinya apa?
Beberapa minggu lalu saya cerita soal ngopi bareng tim. Minggu ini saya bikin lebih kecil lagi — satu-satu. Bukan rapat. Ngopi berdua.
Kalimat pembuka saya ke tiap orang kira-kira sama: “Selama ini kalian yang dengerin mimpi saya. Sekarang giliran saya yang dengerin mimpi kalian.”
Dan saya nyadar, yang bikin pintu kebuka itu bukan pertanyaannya. Tapi tempatnya.
Di kantor, kami selalu bos dan karyawan. Mejanya meja kerja. Begitu pindah ke meja kopi — dan saya beneran diam, beneran dengar — konteksnya ganti. Bukan atasan-bawahan lagi. Cuma dua orang yang lagi ngobrol.
Dan dari situ, hal-hal yang gak pernah keluar di ruang rapat, satu-satu muncul.
Yang saya temukan bikin saya diam sebentar.
Ternyata, diam-diam, saya nyimpen mimpi soal mereka. Saya punya bayangan jalan karir tiap orang di kepala saya. Cuma gak pernah saya omongin.
Dan mereka juga nyimpen mimpi soal diri mereka sendiri. Yang gak pernah mereka omongin ke saya.
Pas dibuka berdua, ternyata sering banget — mimpinya sama. Yang saya harapkan buat mereka, itu juga yang mereka harapkan buat diri mereka.
Selama ini kelihatannya kayak perusahaan gak ngakomodir mimpi mereka. Padahal bukan. Mimpinya udah sama dari dulu. Cuma gak pernah ketemu, karena gak pernah diucap. Yang ada di tengah bukan beda arah — cuma diam.
Kami masih satu perahu, dan jalannya masih panjang. Saya pengin sepanjang jalan ini yang tumbuh bukan cuma perusahaan — tapi mereka juga.
Dan itu baru kebuka setelah saya pindah kursi: berhenti jadi yang ngomong, mulai jadi yang mendengar.
Kadang yang misahin owner sama timnya bukan beda mimpi. Tapi dua mimpi yang sama — yang sama-sama didiamkan.
Coba tanya diri sendiri: kamu yakin tahu mimpi tim kamu? Atau cuma belum pernah duduk di meja yang bikin mereka mau cerita?