← Catatan Syabli

Catatan 03 · 8 Juni 2026

Jarak Tiga Huruf

Jarak Tiga Huruf

Coba perhatikan siapa saja yang kamu panggil “Pak”.

Pak RT. Pak guru. Pak polisi. Pak dokter. Orang-orang yang waktu di depannya, badan kita otomatis tegak sedikit. Suara kita turun. Bercanda kita rem.

Sekarang coba siapa yang kamu panggil “Mas”.

Mas tukang kopi. Mas ojek. Mas yang jaga warung. Orang-orang yang bisa kita ajak ngobrol ngalor-ngidul, kita colek bahunya, kita bilang “eh itu salah” tanpa mikir dua kali.

Dua-duanya sopan. Tapi rasanya beda. Satu memberi jarak. Satu menutup jarak.

• • •

Di kantor, selama ini saya dipanggil “Pak Syabli”.

Wajar, sebenarnya. Saya bertahun-tahun jadi dosen, lalu dekan, lalu guru. “Pak” itu nempel, lalu kebawa terus ke perusahaan. Saya pikir itu cuma soal sopan. Gak ada yang salah.

Sampai saya sadar: “Pak” itu bukan cuma panggilan. Dia bawa muatan. Muatan otoritas. Yang memberi perintah, bukan yang diajak mikir bareng. Begitu saya jadi “Pak”, posisi saya otomatis naik ke atas, dan tim saya otomatis menengadah.

• • •

Padahal yang saya cari justru kebalikannya.

Saya pernah nulis soal ngopi bareng tim — kenapa kalau kita ketemu karyawan cuma di konteks kerja, kedekatan itu gak pernah kebangun. Di meja kopi, orang berani jujur. Di ruang rapat, orang jaga jarak.

Tapi saya lupa satu hal kecil yang ngerusak meja kopi itu: selama saya masih dipanggil “Pak”, meja kopinya tetap ruang rapat. Cuma pindah tempat.

Tim yang masih manggil bosnya “Pak” jarang berani bilang “ini salah, Pak”. Yang keluar biasanya cuma, “Sudah bagus, Pak.” Dan kita, para owner, sering salah baca itu sebagai tanda semua beres.

• • •

Jadi saya mau coba sesuatu yang awalnya bikin saya sendiri geli: minta dipanggil “Mas Syabli”.

Geli karena nempelin “Mas” ke diri sendiri itu rasanya kayak maksa akrab. Tapi mungkin justru di situ poinnya. Kalau saya beneran mau jadi teman mikir buat tim — bukan komandan yang dikasih laporan — pagar paling pertama yang harus saya turunin itu ada di panggilan saya sendiri.

“Pak” itu, kalau saya pikir-pikir, satu lagi password yang diam-diam saya pegang. Yang bikin tim gak berani buka suara, karena posisinya terlalu di bawah untuk menatap saya sejajar.

• • •

Tiga huruf. Kelihatannya remeh. Tapi tiga huruf itu yang menentukan timmu nganggap kamu atasan yang harus dilapori, atau teman yang berani dikoreksi.

Coba dengarkan tim kamu hari ini. Mereka manggil kamu apa — dan jangan-jangan, panggilan itu sendiri yang lagi masang pagar.