Bukan Genius, Tapi Scenius

Di Google Maps saya ada satu list namanya “Mau Dikunjungi”. Isinya kafe-kafe di Mataram yang belum pernah saya datangi.
Hari ini masih ada 22.
Anehnya, list ini gak pernah habis. Tiap hari saya datangi satu, saya centang, saya hapus. Mestinya makin lama makin pendek.
Tapi tiap kali saya buka, selalu ada yang baru muncul. Kafe baru di gang yang saya gak tahu. Tempat lama yang ganti menu. Roaster baru yang katanya bijinya beda.
Saya pikir kenapa saya gak pernah bosan. Ternyata bukan kopinya — kopinya ya gitu-gitu aja, hitam, pahit. Yang bikin saya balik lagi besok itu ada sesuatu yang baru tiap kali: tempat baru, rasa baru, orang baru di balik mesin.
Pagi ini, sambil nyentang satu kafe lagi, saya kepikiran: kenapa kebiasaan ini gak saya bawa ke tim?
Bukan ngopinya. Tapi caranya. Datang ke tempat baru tiap minggu, dengan sesuatu yang belum pernah saya cicip sebelumnya.
Saya mulai mikirin satu format sederhana: ngopi bareng manajer-manajer saya, tiap minggu. Bukan rapat.
Rapat itu ada agenda, ada notulen, ada yang ngerasa harus lapor bagus-bagus. Ini ngopi. Tempat beda tiap minggu, dari list yang gak habis-habis itu.
Tiap orang bawa satu hal — entah saya, entah mereka. Kita ngobrol. Minggu depan ketemu lagi: “kemarin kita ngomongin ini, udah jalan belum?” Lalu bawa hal baru lagi. Begitu terus. Sampai terasah.
Tapi saya jujur dulu. Sampai sekarang format ini belum benar-benar jalan. Bukan karena manajernya males. Ada yang ganjil.
Manajer-manajer saya masih takut ngomong. Kalau saya salah, mereka diam. Kalau ada ide yang beda dari saya, ditahan.
Kalau saya tanya “ada masukan?”, jawabannya hampir selalu “sudah bagus, Pak.” Padahal saya tahu, di kepala mereka ada yang mengganjal — cuma gak keluar.
Susah mengasah pisau kalau cuma satu tangan yang gerak.
Patrick Lencioni, di The Five Dysfunctions of a Team, gambar piramida lima lapis. Yang paling dasar, fondasi semuanya, cuma satu kata: kepercayaan.
Kalau dasar ini retak, empat lapis di atasnya ikut goyang — sampai ke puncak, yaitu hasil.
Tapi kepercayaan yang Lencioni maksud bukan “saya percaya kamu kompeten”. Bukan itu. Yang dia maksud: berani menunjukkan kekurangan. Berani bilang “saya gak tahu”. Berani salah di depan orang tanpa takut dihakimi.
Saya jadi inget cara orang curhat. Kita gak curhat ke sembarang orang — kita curhat ke orang yang kita percaya.
Dan isi curhatan itu, coba perhatikan, hampir selalu soal kekurangan kita sendiri. Hal yang belum beres. Ketakutan yang gak kita akui di depan umum.
Tim yang sehat, kalau saya tarik dari Lencioni, ya tim yang berani saling curhat. Yang manajernya berani bilang ke saya, “Pak, yang kemarin itu menurut saya keliru.” Itu yang belum ada di tim saya.
Dan saya sadar, itu gak akan muncul kalau saya nunggu mereka duluan. Yang harus buka kekurangan duluan itu saya.
Saya yang harus bilang “kemarin saya salah ambil keputusan” di depan mereka. Baru lapisan kepercayaan itu mulai kebangun. Pemimpin yang gak mau kelihatan salah, jangan harap timnya berani jujur.
Di sinilah ngopi mingguan tadi nyambung ke satu konsep yang saya temukan dari Austin Kleon — dia pinjam dari musisi Brian Eno: scenius.
Bukan genius. Genius itu satu orang jenius yang katanya melahirkan ide besar sendirian, di kamar, sambil begadang.
Scenius itu kebalikannya — scene, sekumpulan orang yang saling mengasah di tempat dan zaman yang sama. Ide besar, kata Eno, jarang lahir dari satu kepala. Dia lahir dari komunitas yang sehat, tempat banyak suara saling bergesekan.
Ngopi mingguan itu, buat saya, cara bikin scene. Bukan saya ngajarin manajer. Bukan manajer lapor ke bos. Tapi kita saling asah.
Entah minggu ini saya yang dapet sesuatu dari mereka, entah mereka yang dapet dari saya. Yang penting ritmenya jalan — sama kayak list kafe yang gak boleh berhenti dikunjungi.
Kalau kepercayaan itu kebangun, kalau scene-nya hidup, Lencioni bilang puncak piramidanya datang sendiri: hasil. Target tercapai. Tim yang gerak bukan karena disuruh, tapi karena merasa ikut punya.
Tapi hasil itu bukan yang saya kejar di depan. Ini nyambung ke catatan saya kemarin — soal Mas Jay yang bilang “berbagi saja, jangan harap balasan, nanti dia datang sendiri.”
Ngopi mingguan ini, sebenarnya, bentuk berbagi saya ke tim. Saya gak nuntut minggu depan langsung ada hasil. Saya cuma datang, bawa sesuatu, dengar mereka, ulangi.
Dan kalau Mas Jay benar — saya makin yakin dia benar — hasilnya akan datang. Belakangan. Pelan. Tapi datang.
Ke dalam, saya berbagi lewat ngopi. Ke luar, saya berbagi lewat tulisan ini. Sama prinsipnya. Mungkin suatu hari keduanya ketemu — kumpul mingguan beneran di Mataram, sambil ngopi, sama siapa pun yang mau ikut terasah. Tapi itu nanti.
Saya belum punya tim yang berani curhat ke saya. Saya masih di awal. List kafe saya masih 22, dan kepercayaan tim saya mungkin baru di angka satu-dua.
Tapi minggu ini saya akan mulai. Satu kafe baru. Satu obrolan tanpa agenda. Dan mungkin, satu pengakuan dari saya duluan soal keputusan yang kemarin keliru.
Coba tanya diri sendiri: kapan terakhir tim kamu berani bilang kamu salah? Kalau jawabannya “gak pernah” — mungkin masalahnya bukan di mereka. Mungkin di kursi yang kamu duduki, yang belum pernah kelihatan bisa salah.