← Catatan Syabli

Catatan 07 · 16 Juni 2026

Saya yang Pegang Password-nya

Saya yang Pegang Password-nya

“That’s all any of us are: amateurs. We don’t live long enough to be anything else.”

— Charlie Chaplin

• • •

Waktu Adzka, anak pertama saya, naik ke kelas enam, saya pasang aturan di HP-nya. Satu jam main, habis itu mati sendiri. Family Link yang atur. Saya yang pegang password-nya.

Setahun jalan mulus. Lalu sebulan terakhir saya sadar angkanya gak masuk akal — anak ini main bisa sampai lima, enam jam sehari. Diam-diam dia bisa nambah sendiri jatahnya. Saya kunci lagi, password saya ganti. Beres, pikir saya.

Beberapa minggu kemudian, Family Link-nya putus. Gak nyambung lagi. Bukan error. Anak ini sudah ketemu jalannya sendiri.

Saya terduduk agak lama waktu itu. Bukan marah. Lebih ke kaget sama satu hal yang baru kebuka di kepala: aturan yang saya tambah-tambahin ini, makin saya kunci, makin dia cari celah. Saya pegang password-nya erat-erat, dan justru itu yang dia jebol duluan.

• • •

Minggu yang hampir bersamaan, tangan kanan saya di kantor kasih sinyal. Sinyal yang awalnya bikin saya kaget juga — dia pengen resign.

Reflek pertama saya pengin langsung jawab, langsung benerin, langsung nahan. Tapi saya coba tahan. Saya ingat habit kelima Covey: pahami dulu, baru minta dipahami. Jadi saya dengerin. Beneran dengerin, bukan sambil nyusun bantahan.

Dan yang kurang ternyata bukan gaji. Bukan juga dia gak betah. Yang habis itu bahan bakarnya. Waktu pertama saya rekrut, saya bilang: ayo belajar bareng di sini.

Tiga tahun jalan, bahan bakar belajar itu sampai di dasar. Bukan karena dia berhenti mau. Tapi karena trust yang saya kasih cuma segitu. Tanggung jawab yang lebih, masih saya tahan-tahan. Ada batas yang gak pernah saya kasih dia tembus.

Sama persis kayak Adzka. Saya yang pegang password-nya.

• • •

Saya jadi inget diri saya sendiri. Dulu saya dosen di Universitas Teknologi Sumbawa, masuk akhir 2013. Tahun ketiga, saya sudah jadi dekan — dan justru di situ saya mulai gelisah. Pengin keluar. Entah cari beasiswa, entah apa. Saya gak tahu itu pelarian atau pencarian. Yang jelas, di tahun ketiga itu, ada ritme yang minta diganti.

Tiga tahun. Saya mulai mikir mungkin buat sebagian orang, itu memang batas. Kayak orang cerita soal fase pernikahan — ada honeymoon-nya, lalu di tahun kelima mulai geser, muncul soal-soal baru. Bukan tanda rusak. Tanda butuh ritme baru.

Bedanya, dulu gak ada yang dengerin gelisah saya. Sekarang saya yang ada di kursi seberangnya.

• • •

Yang lucu — dan agak nyesek — saya ternyata punya peta jalur karir buat dia. Sudah saya susun di kepala. Cuma satu masalahnya: gak pernah saya ceritakan ke orangnya. Saya simpan sendiri, lalu heran kenapa dia gak tahu mau ke mana.

Jadi waktu kami ngobrol, saya buka beberapa pilihan. Yang pertama, kalau memang harus pisah, ya kita pisah baik-baik — beda perahu, tapi saling tinggalin kesan yang bagus. Yang kedua, saya kasih dia kebebasan. Kebebasan yang bertanggung jawab — kursi direktur, dengan saya sign out dari urusan strategis selama enam bulan.

Mungkin ini memang waktunya saya turun dari gelanggang. Berdiri di pinggir. Bukan karena nyerah, tapi karena di pinggir saya bisa lihat lapangan lebih luas daripada waktu ikut lari di tengahnya.

• • •

Soal lepas ini, Adzka yang ngajarin duluan.

Setelah Family Link-nya putus, saya gak pasang aturan baru. Saya ajak dia ngobrol, sebagai orang yang sudah besar. Sebagai teman, bukan sebagai ayah.

Saya bilang: kamu sudah waktunya pegang tanggung jawab atas waktumu sendiri. Ayah gak akan bisa nemenin kamu selamanya — sepuluh tahun lagi mungkin, itu pun gak ada yang janjiin.

Lalu terjadi hal-hal yang gak pernah saya minta. Tanpa disuruh, dia mulai ngajak saya ke masjid. Tanpa disuruh, dia namatin novel berbahasa Inggris pertamanya — dua ratus halaman lebih — terus beli sendiri dua sekuelnya. Dan di acara kelulusannya, dia dipanggil sebagai peringkat satu akademik dan peringkat satu non-akademik.

Guru saya pernah bilang, “Prestasi anak itu, bukan kebanggaan orang tua.” Saya bersyukur dalam diam, dipanggil sebagai orang tuanya. Itu sudah lebih dari cukup.

Yang menarik: gak satu pun dari itu semua hasil dari aturan. Semua muncul setelah saya berhenti pegang password-nya.

Buat karyawan saya, ceritanya belum selesai. Saya belum tahu ujungnya. Tapi untuk pertama kalinya, saya gak pegang password-nya erat-erat.

• • •

Soal melepas ini, sebenarnya saya pernah nulis catatannya sendiri — yang saya kasih judul “Dibagi Nol”. Intinya satu: ada hitungan yang selama ini saya bagi sama ketakutan, sama tundaan, sama overthinking — dan hasilnya makin saya genggam, makin sedikit yang tersisa. Padahal ada satu kolom yang lupa saya isi: kerelaan menerima hasil apa pun.

Waktu saya lepas password Adzka, waktu saya tawarin kursi direktur ke karyawan saya — kira-kira itu yang lagi saya coba praktikkan. Berhenti membaginya dengan rasa takut. Mulai membaginya dengan tawakkal. Wallahu a’lam.

• • •

Sebentar lagi saya mungkin akan melepas dua orang. Adzka saya antar ke Jawa, mondok. Dan mungkin, karyawan saya, ke jalannya sendiri. Dua-duanya saya niatkan sebagai wisuda — bukan kehilangan.

Coba tanya diri sendiri: aturan apa, di tim atau di rumah, yang kamu pegang password-nya erat-erat — dan jangan-jangan itu justru yang lagi dijebol diam-diam?

• • •

Catatan penutup

Beberapa hari setelah tulisan ini saya simpan, dia datang dengan jawabannya sendiri — di luar semua pilihan yang saya tawarkan. Dia memilih lanjut di Lilara, dengan batas waktu yang dia ajukan sendiri: enam bulan sampai setahun buat kami berdua saling menilai. “Win-win,” katanya. “Sama-sama punya waktu.”

Ternyata begitu password-nya saya lepas, yang muncul malah pintu yang gak ada di peta saya. Persis kayak Adzka.